fbpx

Mengenal Ciri dan Prinsip Bisnis Syariah

Bisnis syariah berasal dari dua suku kata yakni ‘Bisnis’ dan ‘Syariah’.

Dimana bisnis merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan jual beli atau perdagangan. Sedangkan Syariah berarti hukum atau aturan berdasarkan ajaran islam.

Jadi, Bisnis Syariah adalah kegiatan jual beli yang berlandaskan hukum syariah atau aturan islam yakni Al Quran dan Hadis.

Kegiatan bisnis syariah bukan hanya kegiatan jual beli yang targetnya mendapatkan “keuntungan”, namun juga mendapatkan keridhoan dari Allah. Jika halal dijalankan, namun jika haram ditinggalkan.

Contohnya bisnis salon syariah, hijab syar’i, travel haji dan umrah, kosmetik halal, dan masih banyak yang lainnya.

Ciri-Ciri Bisnis Syariah

Label syariah seperti label ‘Halal’ yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, banyak menempel di berbagai produk maupun gerai penjual. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa tidak semua bisnis dengan label syariah tersebut bisa dikatakan bisnis syariah.

Ada sejumlah hal yang menjadi ciri-ciri utama bisnis syariah. Apa saja ciri-cirinya? Berikut penjelasannya:

1. Mengandung Nilai Ruhiyah

Secara teori Ruhiyah merupakan kesadaran setiap insan manusia akan eksistensinya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang harus selalu mengingat kepadanya yang diwujudkan dengan melakukan perintahnya dan meninggalkan larangannya.

Sebagai pelaku bisnis, harusnya ia menyadari eksistensinya sebagai makhluk ciptaan Allah dan selalu mengingat Allah.

2. Mampu Membedakan Bisnis Halal dan Haram

Pelaku bisnis syariah dituntut untuk mengetahui bisnis yang diperbolehkan dan tidak boleh sesuai syariah Islam. Sehingga ia akan menjalankan bisnis yang halal dan meninggalkan bisnis yang haram.

Contohnya ketika seseorang membuka usaha salon. Bagi seorang muslimah, rambut adalah salah satu anggota tubuh yang merupakan aurat dan tidak boleh dilihat oleh orang yang bukan mahram-nya. Sehingga ia akan membuka salon muslimah, ia hanya akan menerima konsumen khusus wanita.

Berbeda dengan bisnis non syariah, ia akan menerima konsumen wanita dan pria.

3. Implementasi Bisnis Sesuai Dengan Syariah Islam

Dalam implementasi bisnis, pelaku bisnis akan mengimplementasikan teori dan praktek bisnis sesuai dengan syariah Islam. Sehingga saat menjalankan bisnis, ia tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan secara material saja. Namun, juga mengejar ridho Allah SWT.

4. Tidak Mengandung Unsur Riba

Riba merupakan tindakan yang ‘dilarang’ keras di dalam Islam. Contoh riba dalam jual beli terjadi ketika penjual menetapkan penambahan harga ketika konsumen membeli suatu barang secara kredit (mencicil).

Oleh karena itu, bisnis syariah mengharamkan adanya metode pembayaran secara kredit karena dianggap mengandung unsur riba.

Prinsip-Prinsip Bisnis Syariah

Dalam bisnis syariah, setiap alur bisnis memiliki kaidah-kaidah yang harus dipenuhi.Terdapat 5 prinsip dalam bisnis syariah :

a. Memperhatikan Maqashid Syariah

Prinsip ini merupakan prinsip paling utama dalam menjalankan bisnis syariah, yakni terjaganya 5 maqashid syariah. 5 maqashid syariah tersebut adalah terjaganya agama, jiwa, akal, keturunan (keluarga), dan harta.

b. Keuntungan Diperoleh Melalui Transaksi Jual Beli

Prinsip selanjutnya yang harus dipegang oleh pebisnis yang menjalankan bisnis sesuai syariah yaitu keuntungan bisnis yang diperoleh melalui jual beli.

Dalam kajian ilmu fikih muamalah, pemilahan bisnis (tijarah) bisa dibagi menjadi 2, yakni jual beli dan kongsi. Jual beli yaitu adanya perpindahan kepemilikan barang dari penjual kepada pembeli. Sedangkan akad kongsi, tidak boleh ada keuntungan yang muncul hingga adanya transaksi jual beli. Oleh karena itu, bisnis apapun yang ingin memperoleh keuntungan harus melalui jual beli.

c. Terpenuhi Rukun dan Syarat Dagang

Prinsip ini merupakan prinsip penting untuk dipahami. Ketika rukun dan syarat dagang terpenuhi, maka bisnis tersebut sudah sesuai syariah.

Rukun bisnis jual beli terdiri dari pelaku (penjual dan pembeli), objek (barang yang sudah dilengkapi dengan harga), dan ijab kabul. Namun, jika bisnis kongsi, maka harus ada pelaku (pemilik bisnis dan pemodal), objek (usaha), dan kesepakatan antara kedua belah pihak.

d. Rela Sama Rela

Saat terjadi akad, harus didasari rela sama rela antara kedua belah pihak (penjual dan pembeli). Namun, akad dengan rela sama rela akan sah jika sebelumnya sudah terpenuhi rukun dan syarat dagang.

Agar kedua belah pihak rela sama rela, maka pelaku bisnis (penjual) harus menjelaskan kondisi barang yang dijual secara detail kepada pembeli.

e. Tidak Boleh Melakukan Transaksi Terlarang

Transaksi-transaksi yang dilarang untuk dilakukan dalam Islam adalah transaksi yang disebabkan oleh dua faktor.

Pertama haram zatnya (objek transaksinya) seperti transaksi jual beli alkohol, narkoba, binatang buas, dan lain-lain.

Kedua haram selain zat nya (cara transaksinya) seperti riba, gharar, maisir, akad yang batil, zhalim, dan maksiat.

Itulah sedikit penjelasan mengenai bisnis syariah, semoga bermanfaat.

Share

Penasaran ingin mencoba wanginya parfum sunnah kualitas premium dari Jawara kasturi ?