fbpx

5 Tips Melakukan Bisnis Online Secara Syariah

Saat ini, sebuah bisnis tidak hanya bisa dilakukan secara langsung (konvensional). Tetapi juga bisa dilakukan dengan proses online. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya digitalisasi di kalangan masyarakat.

Namun, tahukah Anda tentang bisnis online syariah? Bisnis online syariah yaitu bisnis syariah yang dilakukan secara online melalui internet. Itu berarti, walaupun dilakukan secara online namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah yang sesuai dengan Syariah Islam.

Saat melakukan bisnis online secara syariah, perhatikan 5 tips berikut ini:

1. Produk atau Jasa yang Disediakan Halal

Kewajiban dalam menjaga hukum halal dan haram dalam sebuah bisnis sangat penting, termasuk dalam bisnis online. Dalam sebuah hadits dijelaskan “Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula hasil penjualannya” (HR Ahmad).

Oleh karena itu, walaupun bisnis Anda dilakukan melalui proses online. Tetapi produk atau jasa yang Anda tawarkan kepada pembeli harus halal.

Apa saja bisnis halal menurut Syariah Islam? Baca artikel sebelumnya mengenai 5 contoh bisnis syariah.

2. Terbebas dari unsur Riba dan Gharar

Pada bisnis online secara syariah juga tidak boleh mengandung unsur “Riba” dan “Gharar”. Riba yaitu pemberlakuan bunga atau penambahan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Riba terbagi 2:

a. Riba Hutang-Piutang

Yaitu tindakan mengambil manfaat tambahan dari suatu hutang. Misalnya si A meminjam uang kepada sebuah bank konvensional, saat mengembalikan uang pinjaman setiap bulannya, maka ia dikenakan “suku bunga” sebesar 5%.

Maka sistem suku bunga pada peminjaman uang tersebut dikatakan riba karena adanya penambahan jumlah hutang saat dikembalikan .

B. Riba Jual-Beli

Yaitu jual beli yang menetapkan penambahan nilai barang karena konsumen membelinya dengan cara mencicil (kredit). Misalnya harga mobil bila dibeli secara cash adalah Rp100.000.000. Sedangkan jika membeli mobil yang sama secara kredit, harganya menjadi Rp120.000.000.

Maka sistem kredit ini dikatakan riba karena adanya nilai tambah harga mobil tersebut.

Sedangkan “gharar” yaitu ketidakjelasan dalam bisnis, baik dari segi harga, barang, waktu dan tempatnya. Gharar yang sering terjadi dalam bisnis online yaitu tidak menjual barang yang sesuai dengan wujud (bentuk) aslinya.

Misalnya saat menjual baju, penjual mengambil foto yang mirip dengan baju yang akan dijualnya di internet, padahal bentuk aslinya berbeda dengan foto. Sehingga ketika pembeli menerima baju yang dibeli, tidak sesuai dengan hasil foto.

Oleh karena itu, saat memperkenalkan suatu produk kepada pembeli, Anda harus menunjukkan wujud asli dari barang tersebut, walaupun hanya melalui foto atau video.

3. Adanya Akad Jual Beli Online

Proses bisnis online secara syariah juga harus dilengkapi dengan adanya akad. Akad adalah perjanjian atau penyatuan ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) antara penjual dan pembeli. Contohnya adalah akad jual beli.

Akad berkaitan erat dengan kemantapan hati seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam bisnis online, proses akad juga harus dilakukan. Misalnya dengan pembuatan form pernyataan dari penjual dan pembeli, tidak menutupi keadaan barang atau produk yang dijual, atau mengirim barang dan uang sesuai dengan jumlah yang telah disepakati.

Tanpa adanya proses akad seperti ini, tentunya akan membuat pembeli tidak puas atau merasa rugi ketika menggunakan produk atau jasa bisnis online Anda tapi tidak sesuai dengan akad nantinya.

4. Adil Dalam Pembagian Keuntungan

Dalam konsep bisnis syariah, dikenal dengan istilah “Mudharabah”. Mudharabah merupakan model bisnis yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Biasanya ada pelaku bisnis sebagai pemilik modal dan pelaku bisnis sebagai pengelola bisnis.

Dalam perjanjian mudharabah juga disepakati adanya pembagian keuntungan antara pelaku bisnis.Dalam bisnis syariah, keuntungan yang didapatkan oleh masing-masing pelaku bisnis harus sama banyak (rata).

Misalnya sebuah bisnis yang dijalankan oleh dua pelaku bisnis, satu pelaku bisnis sebagai pemilik modal, dan satu pelaku bisnis sebagai pengelola bisnis. Maka keuntungan yang diperoleh oleh kedua pelaku bisnis tersebut adalah 50% untuk pemilik modal dan 50% untuk pengelola bisnis dari hasil keuntungan bisnis yang diperoleh.

Nah, konsep bisnis syariah ini juga berlaku bagi Anda yang melakukan bisnis secara online. Pembagian hasil keuntungan bisnis yang diperoleh juga harus sama banyak jika Anda melakukan bisnis secara mudharabah.

5. Gunakan Media Online

Saat melakukan bisnis online, tentunya Anda membutuhkan sebuah media online untuk melakukan promosi atau penjualan bisnis Anda. Banyak media online yang bisa Anda gunakan, seperti website, marketplace, atau berbagai media sosial (Facebook, Instagram, atau Twitter).

Anda tidak perlu menggunakan semua jenis media online, cukup gunakan media online banyak yang digunakan oleh target pasar Anda. Misalnya ketika target pasar Anda banyak menggunakan media sosial Facebook, maka gunakan Facebook dalam menjalankan bisnis online Anda.

Demikian 5 tips yang perlu Anda perhatikan ketika menjalankan sebuah bisnis secara online. Jangan hanya terfokus untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Anda juga harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah Syariah Islam dalam menjalankannya. Semoga bermanfaat.

Share

Penasaran ingin mencoba wanginya parfum sunnah kualitas premium dari Jawara kasturi ?