fbpx

5 Cara Berdagang Rasulullah yang Harus Anda Coba.

Dalam Islam, berdagang merupakan profesi yang mulia. Berdagang juga mempermudah datangnya rezeki dari Allah SWT. Selain itu, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Mughni ‘an Hamlil Asfar dan Al Hafizh Al ‘Iroqi, juga mengatakan “Hendaklah kalian berdagang, karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.”

Bukan hanya itu, Nabi kita Muhammad SAW juga merupakan seorang pedagang. Beliau memulai bisnisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah, dan sukses.

Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam bisnisnya tidak hanya dalam hal materi saja, tetapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta mampu menjalin tali persaudaraan sesama muslim.

Apakah Anda juga ingin seperti nabi? Berikut 5 cara berdagang Rasulullah yang harus kamu coba:

1. Bisnis Dengan Tenaga dan Kemampuan Sendiri

Bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah bisnis dengan ikhtiar (usaha) sendiri, dengan tenaga sendiri, dan dengan keahlian sendiri. Artinya, seorang pebisnis harus punya modal, baik berupa barang, uang, ataupun materi.

Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ bahwa Rasulullah pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Kemudian beliau bersabda “Pekerjaan seseorang yang dengan tangannya dan setiap jual beli yang jujur” (HR Bazzar).

Hadist ini juga menjelaskan bahwa setiap bisnis yang dilakukan juga harus bersih. Bisnis yang bersih, yakni dijalankan sesuai Syariah Islam.

Seperti apakah bisnis syariah tersebut? Anda bisa membaca artikel sebelumnya mengenai bisnis syariah.

2. Tidak Melakukan Transaksi Gharar

Gharar adalah ketidakjelasan dalam bisnis, baik dari segi harga, barang, waktu dan tempatnya.
Misalnya pedagang A menjual buah-buahan yang belum masak, sehingga belum tentu apakah buah-buahan tersebut nantinya bisa dimakan atau tidak. Namun pedagang tersebut sudah melakukan transaksi jual beli dengan para pembeli.

Dalam sebuah hadist Abu Hurairah ra berkata “Rasulullah SAW melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli gharar” (HR Muslim).

Selain itu, dalam hadist lain dari Abu Hurairah ra juga berkata “Rasulullah SAW melarang jual-beli anak hewan dalam kandungan dan mani ternak jantan” (HR Bazzar).

Oleh karena itu, gharar merupakan cara jual beli terlarang dan tidak dilakukan oleh nabi.

3. Jujur dalam Timbangan dan Takaran

Cara berdagang Rasulullah yang ketiga adalah jujur dalam timbangan dan takaran. Suatu kebiasaan masyarakat pada zaman jahiliyah adalah mengurangi takaran atau timbangan.

Mengurangi takaran atau timbangan sama halnya dengan mencuri, tentunya hal ini merupakan perbuatan yang dapat menimbulkan dosa dan tidak sahnya jual beli. Allah juga memerintahkan setiap pedagang untuk menyempurnakan timbangan.

Dalam surat Al-Isra ayat ke 35 disebutkan bahwa “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”.

Namun, melebihi timbangan dengan tujuan agar sang pembeli senang adalah suatu hal yang sangat dianjurkan.

Dari Siwaid bin Qais berkata, “Aku dan makhrafah Al-Abady pernah mengimpor pakaian dari tanah Hajar”, kemudian kami bawa ke Mekah. Lantas Rasulullah datang menghampiri kami sambil berjalan. Kemudian kami tawarkan beliau celana dan beliau membelinya. Dan pada waktu itu, ada seorang yang sedang menimbang, Rasulullah kemudian bersabda : “Timbanglah, dan lebihkan”.

4. Tidak Melakukan Transaksi Riba

Dalam agama Islam, riba adalah hal yang diharamkan. Riba adalah pemberlakuan bunga atau penambahan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Misalnya ketika Anda meminjam uang dari bank konvensional, maka Anda akan dikenakan “bunga” setiap kali membayar angsuran pinjaman. Bunga tersebut disebut dengan transaksi riba.

Dalam sebuah hadist Jabir ra berkata, “Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan dua orang saksinya, dan sesungguhnya mereka itu sama” (HR Muslim).

Hadist di atas menegaskan larangan melakukan riba, baik dalam jual beli maupun hutang piutang.

Riba dalam hutang piutang terjadi ketika ada pinjaman bersyarat yang memberikan manfaat bagi pemberi pinjaman.

Misalnya si A meminjam uang sebesar Rp50.000 kepada si B dengan syarat adanya tambahan bunga sebesar 5% setelah melunasi hutangnya. Nah, yang dimaksud riba adalah uang tambahan sebesar 5% tersebut.

Sedangkan riba dalam jual beli terjadi ketika ada pertukaran barang ribawi (barang yang mengandung unsur riba), dimana barang tersebut tidak senilai, tidak setara dan tidak kontan.

Misalnya si A membeli motor kepada si B secara kredit. Nah, jika dalam kesepakatan harus lunas dalam waktu 3 tahun pengangsuran dan ternyata si A tidak mampu melunasinya maka si B menetapkan perpanjangan kredit dengan aturan akan dikenai denda 5%.

Maka dari itu, saat menjalankan sebuah bisnis, hindari adanya unsur riba dalam bisnis Anda.

5. Lemah Lembut Terhadap Pembeli

Cara berdagang Rasulullah yang tidak pernah dilupakan yaitu selalu bersikap lemah lembut terhadap pembeli. Misalnya dalam memberikan pelayan terhadap para pembeli dan memberikan tutur kata yang baik.

Lemah lembut tidak hanya dilakukan saat menjual, namun juga harus diterapkan saat melakukan promosi agar calon pembeli tertarik untuk membeli barang yang kita jual.

Sikap lemah lembut terhadap pembeli juga membuat Rasulullah SAW mampu menjalin tali persaudaraan sesama muslim saat berdagang.

Demikian 5 contoh cara berdagang Rasulullah SAW yang patut Anda coba, ternyata cara berdagang Rasulullah bukan hanya sukses dalam materi saja. Namun juga sukses dalam mendatangkan ridha dari Allah SAW, serta menjalin hubungan dengan sesama umat Islam. Hal ini dikarenakan dalam proses bisnis yang dilakukan nabi Muhammad SAW berlandaskan Syariah Islam.

Baca juga: Perbedaan Bisnis Syariah dan Bisnis Konvensional.

Share

Penasaran ingin mencoba wanginya parfum sunnah kualitas premium dari Jawara kasturi ?